Surabaya, 27 Mei 2010

Salah satu jajanan yang bisa membuat saya lupa diri adalah Matabak Mesir. Sedikit informasi untuk anda tentang martabak, Martabak (bahasa Arab: مطبق, berarti “terlipat”) merupakan sajian yang biasa ditemukan di Arab Saudi (terutama di wilayah Hijaz), Yaman, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei. Bergantung pada lokasinya, nama dan komposisi martabak dapat bervariasi. Sejarah kemunculan martabak di Indonesia dimulai pada sekitar awal tahun 1930-an, beberapa pemuda asal daerah Lebaksiu, Tegal, Jawa Tengah, mengadu nasib dengan berjualan makanan dan mainan anak-anak pada perayaan yang dilangsungkan di kota-kota besar seperti Semarang. Di kota inilah salah seorang pemuda yang bernama Ahmad bin Abdul Karim berkenalan dengan seorang pemuda India bernama Abdullah bin Hasan al-Malibary. Dari hasil persahabatan mereka, Abdullah berkenalan dengan adik perempuan Ahmad yang bernama Masni binti Abdul Karim. Kemudian Abdullah mempersunting Masni, adik perempuan Ahmad, pada tahun 1935. Abdullah atau yang biasa disebut Tuan Duloh adalah seorang saudagar yang cukup ternama di zamannya. Salah satu keahlian Abdullah adalah membuat makanan yang terbuat dari adonan terigu yang bernama martabak. Dialah salah satu di antara pemuda-pemuda India yang berhasil memodifikasi martabak dari resep aslinya. Hal ini untuk menyesuaikan dengan citarasa maupun kebiasaan masyarakat di Indonesia, terutama orang Jawa, yang pada umumnya gemar makan sayur-sayuran dan tidak terlalu suka mengonsumsi daging secara berlebihan. Sampai saat ini, jenis martabak telur yang dapat ditemukan di hampir seluruh pelosok Indonesia adalah hasil modifikasi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Martabak)

Enough for histories, yang jelas martabak sendiri di Indonesia memiliki keragaman yang luar biasa tergantung dari daerah-daerah asalnya. Tapi dari itu semua saya selalu mencintai martabak mesir yang lagi-lagi menurut saya memiliki eksotisme citarasa yang luar biasa. Saya sering tertarik mencicipi martabak mesir yang dijual di beberapa restoran, misalnya rumah makan padang “Sederhana”, rumah makan “Mesir” di Batu dan beberapa lainnya. Namun di mana pun saya mendapatkannya, tetap saja saya bisa dibuai dengan aroma dan rasa kari yang melekat pada tiap potongan martabaknya bersama saus kecap yang dicampur dengan irisan tomat segar dan cabe rawit. yumm🙂

Di restoran Mesir yang terletak di kota Batu Jawa Timur, saya menemukan martabak yang disajikan dengan sangat sederhana tanpa dampingan saus kecap. Namun bumbu kari yang dibuat dengan sangat mantap sebagai campuran utama dari martabak ini membuat penikmatnya lupa akan ketidak hadiran saus kecap dan hanya digantikan dengan acar timun yang dipotong seadanya. Awalnya saya mengira ini hanyalah martabak telor biasa seperti yang dijual banyak orang digerobak-gerobak pinggir jalan, tapi citarasa kari mencuat langsung pada suapan pertama membuat saya berpikir ulang karena sangat berbeda dengan martabak telor biasa dan rasanya sangat identik dengan martabak mesir yang sebelumnya pernah saya cicipi. Maka saya berkesimpulan bahwa ini adalah martabak mesir versi timur tengah (karena pemilik resto tersebut orang timur tengah).

Nah, sebenarnya jajanan yang bernama martabak mesir ini adalah makanan asli dari Minang, tadinya saya juga berpikiran ini memang makanan timur tengah..:) Di padang martabak ini dikenal dengan nama martabak Kubang, untuk sejarah selengkapnya saya kurang jelas tapi jika ada info akan saya share lebih lanjut.

By the way, salah satu referensi tempat penjual martabak mesir yang mak nyuss (maaf, meminjam ungkapan dari Pak Bondan) adalah rumah makan padang Sederhana. Huuuhh, martabak Mesir yang satu ini mampu membuat saya jatuh hati pada tiap potongannya. Penyajiannya lengkap dengan saus kecap yang sedap dan yang lebih menarik lagi, anda diberikan intro menarik sebelum menikmati menu martabak mesirnya yaitu atraksi pembuatan martabak mesir itu sendiri.

Bumbu karinya mantab, tidak terlalu asin sehingga cocok untuk anda yang tidak terlalu menggemari makanan asin. Dagingnya banyak, tidak setengah-setengah. Pada potongan terakhirpun anda masih mendapatkan rasa dan porsi yang sama dengan potongan saat awal anda menikmati menu ini.

Berbeda dengan beberapa tempat penjual martabak secara umum, di sini penyajiannya sangat bersih, diawali dengan minyak goreng yang bening sehingga tidak membuat tampilan martabak menjadi terlalu hitam sampai pada kemasan dari martabak itu sendiri (jika anda menghendaki take away) membuat penikmatnya merasa aman dan higienis.

Sayangnya, kualitas menu martabak mesir di satu restoran padang Sederhana yang satu dengan yang lain sedikit tidak seragam. Mungkin belum ada standarisasi komposisi pada pembuatannya sehingga saya lebih memilih membeli martabak mesir di restoran padang Sederhana yang berada di kawasan Galaxy bumi permai Surabaya dari pada Restoran padang Sederhana lainnya.

Well… however saya menyadari rasa tergantung pada selera. Saya tetap menyarankan anda mencoba menu unik dan eksotik ini dimanapun anda menemukannya.