Surabaya, 27 Mei 2010

Nasi kuning adalah makanan khas Indonesia. Makanan ini terbuat dari beras yang dimasak bersama dengan kunyit serta santan dan rempah-rempah. Dengan ditambahkannya bumbu-bumbu dan santan, nasi kuning memiliki rasa yang lebih gurih daripada nasi putih. Nasi kuning biasa disajikan dengan bermacam lauk-pauk khas Indonesia. Dalam tradisi Indonesia warna nasi kuning menggambarkan kekayaan, kemakmuran serta moral yang luhur. Oleh sebab itu nasi kuning sering disajikan pada peristiwa syukuran dan peristiwa-peristiwa gembira seperti kelahiran, pernikahan dan tunangan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Nasi_kuning)

Sejatinya di beberapa daerah di Indonesia memiliki menu makanan nasi kuning dengan tampilan yang seringkali sama, setidaknya itu adalah pemikiran awal saya (sama-sama kuning🙂..). Tapi ternyata dari segi citarasa nasi kuning jawa dan nasi kuning banjarmasin memiliki perbedaan yang sangat jelas. Jika nasi kuning jawa terasa lebih gurih dan nasinya pulen dimulut, nasi kuning banjarmasin lebih hambar hampir menyerupai nasi putih biasa dan tekstur nasinya sama sekali tidak pulen. Kalau orang jawa bilang berasnya “ngepyur“.

Ketika melihat pertama kali tampilan nasi kuning banjarmasin yang saya cicipi di warung Rahmat (salah satu warung makanan khas banjarmasin yang terkenal di daerah Pasar Lama Banjarmasin), dalam benak saya nasi kuning ini terkesan keras dan kering karena berasnya “miji-miji” (baca: tidak lengket satusama lain). Namun ketika saya mulai memakannya, surprisingly ternyata nasinya empuk, mudah dikunyah dan sama sekali jauh dari rasa kering. Hal ini disebabkan oleh jenis varietas beras yang dibudidayakan di kota Banjarmasin berbeda dengan jenis varietas beras di Jawa. Sehingga nasi yang ada di banjarmasin kebanyakan bertekstur tidak pulen seperti nasi di Jawa.

Nasi kuning Banjarmasin disajikan dengan menu masak merah (serupa dengan masakan jawa yang dikenal dengan nama “bali”). Di warung ini menyajikan beberapa pilihan dalam menu masak merahnya, anda bisa memilih ayam, daging, telur ataupun ikan haruan (sejenis ikan patin). Saya lebih menyarankan anda mencoba masak merah ikan haruan untuk  mendapatkan rasa tradisional, khas dan berbeda.

Di awal memakan nasi kuning ini (walaupun saya sendiri keturunan Banjarmasin, tp “Njowoni” banget), saya masih kesulitan menemukan perpaduan rasa nasi kuning dan masak merah sebagai lauknya. Ini karena saya terbiasa makan nasi kuning jawa dan lauknya yang masing-masing memunculkan rasa dominan. Namun pada pertengahan, ritual perkawinan paduan rasa dari keduanya akhirnya muncul juga. Saya baru memahami kenapa nasi kuning banjar lebih cenderung terasa hambar, ini karena masak merah yang didaulat menjadi lauknya memiliki rasa yang sangat dominan, cenderung manis. Jadi untuk anda yang menggilai makanan pedas, menu nasi kuning banjarmasin harus anda tambahkan dengan sambal super pedas yang sudah disediakan oleh warung Rahmat karena masak merah selalu disajikan manis dan tidak pedas sama sekali.

Pada suapan terakhir, saya baru bisa menemukan kesimpulan bahwa rasa keseluruhan dari menu ini lebih soft di banding dengan nasi kuning jawa. rasa nasinya yang hambar mengimbangi rasa masak merah yang manis, menurut saya ini merupakan citarasa yang cukup bijaksana. Well…secara general nasi kuning banjarmasin patut untuk dinikmati karena menu ini memiliki keunikan tersendiri, nilai pada tampilan dan  citarasanya berbeda jauh. Kesan yang ditimbulkan pada awal, pertengahan dan akhir ritual penikmatannya beragam.

Rekomendasi saya jika anda sedang berkunjung ke banjarmasin, you should try this traditional menu… dan saya sarankan anda datang lebih pagi, sekitar pukul 08.00 WITA karena jika sudah terlalu siang, anda akan kecewa karena mendapati ikan haruan yang menjadi primadona di warung Rahmat ini sudah sold out diserbu pengunjung.

siippp dah..🙂